
Jakarta – Makanan yang terlihat segar belum tentu aman jika langsung disantap tanpa dimasak. Sejumlah bahan pangan justru dapat menjadi sumber paparan bakteri atau virus apabila dikonsumsi mentah maupun dalam kondisi kurang matang.
Memasak makanan hingga tingkat kematangan yang tepat menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko penyakit akibat makanan. Hal ini menjadi perhatian Ron Simon, seorang pengacara yang selama puluhan tahun menangani berbagai kasus keracunan makanan dan mengamati pola yang muncul dalam sejumlah wabah.
Simon mengatakan dirinya cenderung menghindari makanan tertentu yang berisiko membawa mikroorganisme penyebab penyakit. Menurutnya, proses pemasakan dapat membantu membunuh bakteri dan virus berbahaya.
Dikutip dari Newsweek, berikut lima makanan yang menurut Simon lebih baik tidak dikonsumsi dalam keadaan mentah.
1. Tiram Mentah
Tiram sering disajikan mentah dan menjadi salah satu hidangan yang populer di restoran. Namun, cara penyajian tersebut memiliki risiko kesehatan karena tiram mentah dapat membawa bakteri Vibrio maupun norovirus.
Salah satu bakteri yang perlu diwaspadai adalah Vibrio vulnificus. Infeksi akibat bakteri ini memang tergolong jarang, tetapi dalam kasus tertentu dapat berkembang menjadi infeksi aliran darah yang serius.
Risikonya terutama perlu diperhatikan oleh orang dengan penyakit hati, diabetes, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Anggapan lama bahwa tiram hanya aman disantap pada bulan-bulan yang memiliki huruf “R” juga dinilai tidak lagi sepenuhnya berlaku. Perairan yang semakin hangat memungkinkan bakteri Vibrio bertahan dan berkembang dalam periode yang lebih panjang sepanjang tahun.
2. Telur dalam Kondisi Mentah
Telur merupakan bahan yang sering digunakan tanpa dimasak sepenuhnya, misalnya dalam adonan kue, saus Caesar, aioli, atau hidangan ramen dengan telur mentah.
Padahal, telur dapat terkontaminasi Salmonella. Bakteri tersebut tidak hanya mungkin berada pada bagian luar cangkang, tetapi juga dapat ditemukan di dalam telur.
Pada orang yang sehat, infeksi Salmonella umumnya dapat pulih dalam beberapa hari. Namun, infeksi dapat menimbulkan dampak yang lebih serius pada kelompok yang rentan.
Untuk resep yang membutuhkan telur mentah, telur pasteurisasi dalam kemasan karton dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Proses pasteurisasi bertujuan mengurangi risiko Salmonella tanpa harus memasak telur hingga matang.
3. Tauge dan Kecambah Mentah
Kecambah seperti tauge, alfalfa, dan clover juga termasuk bahan pangan yang perlu diperhatikan apabila hendak dikonsumsi mentah.
Masalahnya dapat bermula sejak biji sebelum proses perkecambahan berlangsung. Ketika biji dibiarkan tumbuh dalam kondisi hangat dan lembap selama beberapa hari, lingkungan tersebut juga dapat mendukung pertumbuhan bakteri.
Kondisi inilah yang membuat kecambah mentah dikaitkan dengan sejumlah kejadian wabah penyakit akibat makanan.
Simon memilih menghindari kecambah yang dikonsumsi mentah untuk mengurangi kemungkinan terpapar bakteri. Sebaliknya, memasaknya terlebih dahulu dapat membantu membuatnya lebih aman untuk dikonsumsi.
4. Burger yang Tidak Matang Sempurna
Daging burger memiliki risiko berbeda dibandingkan potongan steak utuh. Pada daging yang telah digiling, bakteri yang semula berada di permukaan dapat tersebar ke bagian dalam daging.
Karena itu, bagian tengah burger perlu mencapai suhu yang cukup tinggi untuk membunuh bakteri. Suhu yang direkomendasikan dalam artikel tersebut adalah sekitar 160 derajat Fahrenheit atau 71 derajat Celsius.
Jika bagian tengah masih kurang matang, bakteri seperti E. coli dapat bertahan. Bahkan, jumlah bakteri E. coli O157 yang sangat sedikit pun disebut berpotensi menyebabkan penyakit.
Risiko tersebut juga dapat semakin kompleks karena satu patty dapat dibuat menggunakan daging dari beberapa hewan. Atas pertimbangan itu, Simon memilih burger yang dimasak sampai matang sepenuhnya.
5. Susu yang Belum Dipasteurisasi
Susu mentah kerap dipandang sebagai produk yang lebih alami dibandingkan susu yang telah melalui proses pasteurisasi. Namun, anggapan tersebut tidak berarti susu mentah lebih aman atau terbukti lebih bernutrisi.
Pasteurisasi dilakukan dengan memberikan pemanasan dalam waktu tertentu untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit. Proses ini dapat mengurangi atau membasmi bakteri seperti E. coli, Listeria, Campylobacter, dan Salmonella tanpa mengubah kandungan nutrisi susu secara signifikan.
Menurut Simon, mengonsumsi susu mentah dapat meningkatkan risiko mengalami penyakit akibat infeksi. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena beberapa jenis infeksi bahkan dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk kerusakan ginjal permanen.
Tidak Semua Makanan Mentah Aman Dikonsumsi
Risiko kontaminasi bakteri tidak selalu terlihat dari warna, aroma, maupun tampilan makanan. Karena itu, bahan pangan tertentu perlu mendapatkan penanganan dan pemasakan yang tepat sebelum dikonsumsi.
Tiram, telur, kecambah, daging burger, dan susu mentah termasuk makanan yang perlu mendapat perhatian lebih ketika dikonsumsi tanpa proses pemasakan atau pasteurisasi.
Terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, langkah pencegahan terhadap penyakit akibat makanan menjadi semakin penting.