
Jakarta – Makanan yang terlihat sehat belum tentu selalu menjadi pilihan terbaik. Para chef pribadi yang bekerja untuk atlet, selebriti, hingga kalangan elite mengungkap beberapa makanan populer yang justru jarang masuk dalam menu klien mereka.
Bagi orang-orang yang sangat memperhatikan kesehatan dan performa tubuh, pemilihan makanan bukan hanya soal label sehat atau harga mahal. Kandungan nutrisi, proses pembuatan, serta dampaknya bagi energi dan kesehatan jangka panjang menjadi pertimbangan utama.
Dilansir dari Fox News, Richard Ingraham, chef pribadi yang pernah menangani kebutuhan makanan atlet NBA Dwyane Wade, mengatakan bahwa klien dari kalangan atas lebih memilih makanan yang mendukung performa tubuh dan umur panjang.
Hal serupa juga disampaikan Serena Poon, chef pribadi sekaligus ahli gizi yang pernah bekerja dengan atlet Tom Brady dan aktris Sofía Vergara. Menurutnya, sejumlah produk yang sering dipromosikan sebagai makanan sehat justru tidak selalu memberikan manfaat optimal bagi tubuh.
Berikut beberapa makanan yang sering dianggap sehat, tetapi justru dihindari oleh sebagian orang dengan gaya hidup sangat memperhatikan kesehatan.
1. Smoothie dan Program Detoks Berlebihan
Smoothie sering dianggap sebagai pilihan sehat karena dibuat dari buah dan bahan alami. Namun, beberapa kalangan justru membatasi konsumsi minuman ini.
Richard Ingraham menjelaskan bahwa makanan dalam bentuk cair cenderung membuat seseorang lebih cepat lapar karena tidak melalui proses mengunyah. Akibatnya, rasa kenyang tidak bertahan lama.
Selain itu, program detoks menggunakan jus atau smoothie juga dinilai bukan solusi instan untuk menjaga kesehatan tubuh. Serena Poon menyarankan pola makan konsisten dengan makanan utuh yang kaya serat, protein berkualitas, serta lemak sehat.
Beberapa kliennya lebih memilih konsumsi air putih, kopi, atau teh dibanding minuman detoks yang berlebihan.
2. Plant-Based Meat
Daging nabati atau plant-based meat menjadi salah satu produk yang banyak dipasarkan sebagai alternatif sehat. Namun, makanan ini ternyata tidak selalu menjadi pilihan orang-orang yang menjaga pola makan ketat.
Menurut Richard Ingraham, banyak produk daging nabati telah melalui proses pengolahan panjang dan mengalami rekayasa tambahan agar memiliki tekstur serta rasa menyerupai daging asli.
Serena Poon juga menilai klaim seperti rendah lemak atau tinggi protein pada beberapa produk dapat menyesatkan. Sebagian produk tersebut memiliki kandungan natrium dan lemak jenuh yang cukup tinggi.
Selain itu, makanan ini bisa memiliki kadar nutrisi tertentu yang lebih rendah dibandingkan sumber protein alami, seperti vitamin B12 dan zat besi.
3. Granola dan Sereal Organik
Granola serta sereal kemasan, termasuk yang memiliki label organik atau premium, juga tidak selalu menjadi pilihan utama.
Meskipun sering dipasarkan sebagai menu sarapan sehat, beberapa produk mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi.
Richard Ingraham mengatakan bahwa kliennya lebih memilih bahan sederhana seperti oat polos atau makanan alami lain yang kandungan nutrisinya lebih mudah dikontrol.
Ia bahkan memilih membuat granola sendiri agar jumlah gula dan bahan tambahan dapat disesuaikan.
Bagi orang yang fokus menjaga energi sepanjang hari, makanan yang tampak sehat tetapi tinggi gula justru dapat menyebabkan energi cepat naik lalu turun.
4. Protein Bar dan Produk Protein Kemasan
Protein memang menjadi bagian penting dalam pola makan sehat. Namun, sumber protein dari makanan kemasan tidak selalu menjadi pilihan utama.
Protein bar dan camilan tinggi protein sering dianggap praktis, tetapi beberapa chef pribadi lebih menyarankan sumber protein dari makanan utuh.
Richard Ingraham menyebut makanan seperti ikan dan ayam lebih sering dipilih karena menyediakan nutrisi alami dan membantu pelepasan asam amino secara lebih bertahap.
Makanan utuh juga dinilai lebih baik dalam menjaga energi tetap stabil, mengontrol gula darah, serta mendukung pemulihan tubuh dalam jangka panjang.
5. Produk Rendah Lemak dan Makanan Diet
Produk dengan label rendah lemak atau diet juga termasuk makanan yang sering dihindari.
Menurut Richard Ingraham, ketika lemak dikurangi dalam produk makanan, produsen sering menggantinya dengan tambahan gula, pati, atau bahan lain agar rasa tetap menarik.
Chef pribadi Adam Kelton juga menyebut bahwa kliennya lebih memilih mengonsumsi makanan asli dalam porsi yang sesuai dibandingkan makanan diet kemasan.
Padahal, lemak sehat tetap dibutuhkan tubuh untuk membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Jika asupan lemak terlalu rendah, tubuh berisiko mengalami kekurangan nutrisi tertentu.
Selain itu, makanan rendah lemak sering kali kurang memberikan rasa kenyang sehingga dapat membuat seseorang lebih mudah makan berlebihan.
Meski beberapa makanan tersebut sering dipromosikan sebagai pilihan sehat, para ahli menekankan bahwa kesehatan jangka panjang lebih dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan.
Memilih makanan utuh dengan kandungan protein, serat, vitamin, mineral, serta lemak sehat yang cukup tetap menjadi kunci utama untuk menjaga tubuh tetap bugar.